Ada apa dibalik ‘kesialan’?

Setiap yang tidak enak itu ada ujungnya, entah makin tidak enak atau berubah menjadi lebih baik.

Tapi saya percaya, ada pelangi setelah hujan.

Yang disebut kesialanpun bisa berubah menjadi keberuntungan, itulah hidup.. Semua serba misteri….

Dulu awal ketemu dengan si bapak ini, saya tidak ada gambaran karakternya seperti apa, gayanya… Atau jujurnya tidak ada yang mengingatkan betapa ‘menakutkan’ untuk berurusan dengan dia.

Pertama kali ketemu di sebuah mall, betapa shock saya melihat penampilannya. Di bayangan saya, saya akan bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya, dengan stelan jas yang rapi.

Tapi yang saya temui, seorang bapak-bapak (tidak gendut) pakai celana jeans, kaca mata hitam disangkutkan di kepala, kemeja keluar dengan lengannya digulung.

Sayapun memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan.

Itulah awal pertemuan saya dengan boss, bossnya saya. Boss untuk wilayah Asia tenggara. Ketika visit retail di sebuah mall.

Saya baru bergabung 1 bulan, dan jumlah pegawai di sini baru 2 orang, si teman ga kasih bocoran bagaimana karakter si bapak, si boss juga ga beritahu bossnya dia seperti apa.

Sayapun ‘kenyang’ ketemu si bapak ini, ditanya segala macam hal tentang penjualan, competitor, peluang ke depan dan lain-lainnya. Persoalannya dia akan menanyakan pertanyaan selanjutnya tanpa ‘mengijinkan’ saya untuk menarik nafas setelah menjawab pertanyaan sebelumnya. Dan kepala ini harus berpikir dobel, jawabannya dan bahasa inggrisnya.

Perjalanan dari kuningan ke harmoni, menuju kantor distributor untuk meeting terasa begitu lama.

Dan saya tetap belum tersadar seutuhnya bagaimana si bapak ini, sewaktu beliau menanyakan : ‘kamu ada turunan cina?’ dengan santainya saya menjawab : ‘tidak, apakah itu menjadi masalah?’ dan diapun terdiam.

Dan juga pertanyaannya :’kamu digaji berapa?’ sigeblek ini menjawab sambil disambung : ‘kenapa pak, mau ditambahi?’ jawaban bodoh macam apa itu… Karna sibapak langsung nyambar ‘apakah itu kurang? Karena saya tidak mau pegawai saya berkekurangan.’ Dengan lugas saya menjawab ‘cukup,  Pak’

Dari pegawai cuma berdua, dan sekarang ber-6. Saya yang paling ‘beruntung’ selalu punya kesempatan berurusan dengan bapak ini. Walaupun kedatangannya ke Jakarta tidak lebih dari 3x dalam setahun.

Dan setiap kali rencana kedatangannya diberi tahu, saya sampai termimpi-mimpi.

Setelah 2 tahun bergabung, banyak hal yang terjadi dalam hidup saya. Saya menyukai pekerjaan saya, boss saya begitu baik, tidak ada alasan untuk mencari pekerjaan lain, kecuali kebutuhan akan pendapatan yang lebih.

Sayapun sudah menandatangani kontrak kerja di tempat baru. Dan saya menanti kedatangan boss di Jakarta untuk memberikan surat pengunduran diri, dan bertepatan untuk kunjungannya kali ini bersama dengan si bapak.

Buat saya untuk memberitau pengunduran diri 100x lipat lebih susah, gelisah dan menegangkan dibandingan sebuah wawancara pekerjaan.

Saya berencana memberitau rencana ini di hari terakhir kunjungan mereka. Dan 2 hari pertama saya jalani seperti biasa, meeting ini itu, diskusi ‘normalnya’ dengan si bapak.

Walaupun saya sudah tahu, tidak ada obrolan yang berakhir santai dengan si bapak ini, entah kenapa saya tetap ngajak ngobrol, rasanya canggung aja kalau diem-dieman.

Perjalanan dari harmoni menuju hotel mulia setelah jam kerja adalah perjalanan yang sesuatu bangettt macetnya. Kami bertiga di taxi diam membisu. Lalu sayapun mulai bercerita, kalau minggu lalu saya mengikuti sebuah seminar keuangan di gedung ini, sambil saya menunjuk sebuah gedung di dekat bunderan HI. Dan ternyata dari omongan saya itu jadi obrolan yang sangat panjang dan dalam yang tidak habis dibahas sampai kami turun taxi dan sampai di lobby hotel.

Mulai dari beliau bertanya apa isi seminarnya, siapa yang mengadakan, kamu bayar atau tidak.
Sampai kami berdebat mengenai kenaikan biaya pendidikan di Indonesia. Si bapak tidak percaya kalau di sini kenaikan per tahun itu bisa 20%. Dan sayapun bukan tipikal yes sir, atau nggeh2 doank.. Kalau saya tahu benar saya tetap ngotot (tipikal perpaduan wanita cerdas dan keras kepala :p) . Bahasan sampai nilai index, inflasi, bunga deposito, investasi, harga rumah. Pokoke pembahasan panjang di tengah kemacetan.

Entah menyesal membuka pembahasan tersebut, entah beruntung bisa berdiskusi dengan orang sepintar beliau :p susah dideskripsikan.

Setelah selesai meeting bertiga di mulia, sayapun pulang, dan sampai di rumah saya sms si boss menanyakan agendanya besok pagi, kalau kosong saya ingin bertemu sewaktu sarapan.

Saya tidak bisa tidur, gelisah memikirkan bagaimana menyampaikan ke boss saya. Dia begitu baik.

Pagi-pagi sesampainya di hotel Mulia, saya menunggu si boss setengah jam. Di antara tegang dan sambil menikmati pemandangan expat2 ganteng berlalu lalang di depan mata :p

Ternyata si boss sudah menebak, waktu saya berkata ‘kamu jangan marah ya…’ dan beliau langsung nyahut ‘kamu mau mengundurkan diri?’ dan wajahnya langsung berubah.

Kamipun menuju tempat entah di lantai berapa itu, sejenis executive longue atau apa.. Semuanya expat dan semuanya tampang boss. Cuma saya aja kacung kampreett yang datang ke hotel mulia naik omprengan dari Bekasi.

Berbicara 40 menit dengan si boss, tidak berhasil menemukan titik temu, boss berusaha untuk menahan, tapi saya tunjukkan ke beliau saya sudah tanda tangan di tempat baru. Ngalor ngidul tanpa ada yang jelas.

Dan si bapakpun muncul, dengan pakai sepatu kets, jeans dan polo shirt, sangat mencolok mata dibanding semua manusia di ruangan itu yang berpakaian stelan rapi.

Tanpa mengerti ketegangan obrolan kami, si bapak bergabung di meja. Sambil menyapa, mengambil posisi duduk yang nyaman, lalu nyeletuk bertanya ke saya ‘apa kah menikmati bekerja di sini?  beliau menyebutkan nama perusahaan kami. Boss saya pun menjawab ‘dia sedang mengajukan penduran diri’

Bila dengan boss saya 40 menit kami tidak mendapatkan ujung pembicaraan yang jelas, tapi dengan si bapak hanya butuh waktu tidak sampai 10 menit. Dan sayapun memutuskan untuk tetap bekerja di perusahaan ini.

Bila sebelumnya saya merasa kok cuma saya yang selalu berurusan dengan si bapak, kenapa saya yang harus sampai termimpi-mimpi bila si bapak mau datang, mungkin parahnya,  kenapa saya yang paling sial di antara teman kantor yang lain.

Ternyata segala yang saya anggap ‘kesialan’ menjadi suatu keberuntungan. Saya bisa negoisasi gaji baru langsung dengan boss asia
Tenggara, dan mungkin yang diberikannya melebihi kapasitas yang dapat ditawarkan boss saya.

Yang saya anggap kesialan ternyata menjadi menjadi kesempatan saya untuk dikenal oleh si bapak, ternyata selama ini beliau menilai saya.. Sampai sangaattt detail, beliau menjelaskan kenapa saya dipertahankan, apa yang dia lihat dari seorang indah sitepu dari semua obrolan dan perdebatan kami. (saya pun sangat tersanjung dan terharuuuuu…).

Dan beliaupun menantang agar saya bisa menunjukkan performa kerja yang lebih baik lagi.

Saat itu saya sedang menghadapi persoalan pribadi yang teramat pelik, tetapi saya percaya dalam hidup tak semuanya gelap pasti ada cahaya dari satu sisi kehidupan. Sewaktu saya merasa diperlakukan seperti sampah oleh seseorang dan saya percaya Tuhan memberikan penghiburan dan pernyataan melalui pujian dari seorang yang menurut saya sangat senior. Yang membuat saya tetap bisa bediri tegak. Bahwa saya adalah ciptaanNya yang berharga.

Dan saya belajar tidak ada yang namanya sial, kita tidak tahu proses apa yang kita hadapi, Ada apa nantinya dibalik kesialan kita, semua misteri.

Sekarang saya masih menjalani persoalan pribadi yang saya bilang pelik tadi, tapi dengan pengalaman perkara ‘kesialan’ yang saya hadapi dengan si bapak. Saya melihatnya dari sisi yang berbeda. Saya tidak mengasihani diri saya, Sayapun tidak sabar, kejutan apa yang sedang Tuhan siapkan buat saya, dibalik masalah ini😉

One thought on “Ada apa dibalik ‘kesialan’?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s