Apa Adanya atau Ada Apanya

Beberapa teman SMA ku laki-laki yang masih menjomblo, merasa sedikit kesulitan mencari pasangan karena takut mendapatkan pacar yang hanya melihat apa yang mereka sudah punya.

Itu yang dibilang Win, dia pingin mencari pasangan yang bisa menerima dirinya apa adanya bukan ada apanya.

Begitu juga Maro, berat rasanya sewaktu putus dengan kekasih hati yang menemaninya semenjak dia masih jadi “gembel” di Bandung. Dia takut seandainya dapat pacar baru nantinya hanya tertarik dengan pundi pundi dollar yang sudah dikumpulkannya.

Sebagai seorang perempuan wajar kalau mencari pasangan yang mapan, tapi nenurutku materi itu bukan nomer satu.

Aku pernah bilang ke teman, pengen punya pacar yang sudah punya mobil, biar ga jerawatan kena debu kalau naik motor. Dapat kenalan yang punya mobil, ngajak lunch bareng, tapi aku ngerasa ga nyaman dengan dia, akupun mundur. Ternyata walaupun dia punya mobil bagus hati ga bisa bohong. Ga suka ya ga suka aja ga bisa dipaksa. Kadang kalo cinta, naik motor dari harmoni sampe taman mini (pesta nikahan teman) pun pernah aku jalani (akupun sekarang bingung kok dulu mau yah..hehehheheh)

Pernah juga dijodohkan, yang bikin aku ilfil karena yang menjodohkan itu ngerasa aku pasti mau soalnya mereka cerita kalo si laki2 itu kaya raya punya harta bernilai M M man. Mungkin karena egoku terlalu tinggi, aku jadi ilfil. Mau uangnya berember-ember kek, berpanci-panci, atau apa kek. Jangan kira kau bisa beli aku pake uangmu itu. Aku ngerasa ga dihargai sewaktu mereka tidak menanyakan apakah aku mau atau tidak, mereka mengambil kesimpulan aku pasti mau karena dia kaya.. Indah enggak segitu matrek kok, hidup kayak sekarang aja Indah Happy.

Aku sebel sama laki2 yang menyombongkan pendapatannya, atau menyebut2 penghasilannya. Come on…. katrok kali kayak gitu… emang awak kau kira ga bisa nebak, atau cari info pendapatanmu berapa. Ga usah pake disebut-sebutlah…. Nanti kalau udah mau serius baru ok didiskusikan.

Aku sedikit memberikan pandangan kepada sahabat2ku itu, jangan pernah mereka berpikir kalau mereka sudah mapan atau punya pundi-pundi dollar yang melimpah para wanita akan dengan mudah mereka dapatkan. Guys… you are absolutely wrong.

Perempuan mencari rasa nyaman, diperhatikan, dihargai, disayang, mencari teman untuk berdiskusi, ngobrol, tukar pikiran. Materi itu hanya faktor pendukung saja. Kalau namanya sudah sehati, materi bisa dicari bersama. Aku ga pungkiri materi itu penting, makan cinta itu ga kenyang, tapi tetap uang itu bukan segalanya.

Buat Maro, jangan takut pasti ada perempuan yang ok, yang bisa menerima kau apa adanya, bukan karena $$$ mu itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s